Natal dari Zaman ke Zaman

Artikel

Mark Cartwright
oleh , diterjemahkan oleh Sabrina Go
diterbitkan pada 07 Desember 2021
X

Hari raya Natal sudah menyatukan kebiasaan dan tradisi selama lebih dari dua milenium, beberapa bahkan sudah ada sebelum perayaan Kristen itu sendiri. Dari saling memberikan kado hingga jamuan makan malam Natal yang berlimpah, artikel ini melacak sejarah perayaan Natal dari zaman Romawi hingga ke era Victoria saat hari raya versi modern kita melekat dengan kuat baik dalam perilaku dan literatur. Meski banyak tradisi yang dideskripsikan di sini bersifat universal untuk semua negara Kristen, terutama hingga akhir Abad Pertengahan, kami di sini menyajikan tradisi-tradisi Natal secara luas dalam lingkup pengalaman Anglo-Saxon.

Silent Night by Viggo Johansen
Malam Kudus oleh Viggo Johansen
Viggo Johansen (Public Domain)

Asal Mula: Saturnalia

Beberapa tradisi saat ini yang berasosiasi kuat dengan Natal memiliki sejarah yang panjang, bahkan sebelum perayaan Natal itu sendiri. Kekristenan Awal menjauhkan diri dari praktik-praktik pagan, kemudian kaisar-kaisar Romawi menutup situs-situs keramat kuno, melarang ritual dan menghentikan acara olahraga yang dilakukan untuk menghormati dewa-dewa pagan. Akan tetapi, mengubah kebiasaan masyarakat adalah urusan lain. Festival pagan Saturnalia merupakan acara yang populer dan tradisinya yang sudah berlangsung selama satu milenium, dalam banyak hal, diberikan pada festival Natal yang baru.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Dedaunan musim dingin tersedia dan daun-daun hijau dikumpulkan untuk menghias rumah dengan karangan bunga.

Saturnalia adalah festival Romawi yang berlangsung selama satu minggu dan dilaksanakan antara tanggal 17 dan 23 Desember untuk menghormati dewa pertanian, Saturnus, yang mencakup titik balik matahari musim dingin - acara penting lain dalam kalender pagan. Fakta bahwa ini dulunya adalah hari raya Romawi yang paling meriah mungkin berasal dari peran Saturnus sebagai penguasa ketika dunia diliputi zaman keemasan yang penuh kebahagiaan dan kemakmuran. Festival ini, yang berasal dari abad ke-5 SM, dideskripsikan oleh Catullus, pujangga Romawi abad pertama SM, sebagai “saat-saat terbaik”.

Saturnalia melibatkan pemberian hadiah untuk teman dan keluarga, seperti lilin, koin, dan makanan. Pakaian yang tidak terlalu formal dikenakan, permainan dimainkan, jamuan dinikmati dan bahkan ada pesta tukar-peran. Pengekangan sosial dilonggarkan sedikit, dan kegiatan seperti berjudi dan mabuk di tempat umum tidak terlalu dipandang buruk. Bukankah semua terdengar familier? Lama-kelamaan festival ini diundur hingga akhir Desember, dan seperti juga Parthenon Athena terpaksa harus mendengar lonceng gereja di antara pilar-pilarnya, begitu juga dengan Saturnalia, dalam satu atau lain cara, berubah menjadi perayaan Natal.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Preparing the Yule Log
Menyiapkan Balok Kayu Yule
or Robert Alexander Hillingford (Public Domain)

Natal Abad Pertengahan

Selama periode abad pertengahan (500-1500), perayaan berlangsung dari kelompok ke kelompok. Natal adalah hari libur terpanjang dalam setahun, biasanya 12 hari penuh. Dari Malam Natal (24 Desember) sampai Hari Keduabelas, Epiphany - Pencerahan - (6 Januari), orang-orang mengambil banyak istirahat, terutama berkat pertanian yang menghentikan aktivitasnya selama pertengahan musim dingin.

Persiapan Natal dimulai dari rumah orang-orang miskin hingga yang kaya. Dedaunan musim dingin tersedia, dan daun-daun hijau dikumpulkan untuk menghias rumah dengan karangan bunga. Holly, ivy, dan mistletoe sudah sejak lama disukai oleh orang-orang Celtic dan dihubungkan dengan perlindungan dari roh jahat dan untuk kesuburan. Lingkaran ganda besar mistletoe biasanya dipajang di ruang keluarga. Relasi dengan kesuburan menjelaskan mengapa ada tradisi yang berkembang tentang pasangan yang berciuman di bawah mistletoe, memetik buah beri putih cerah untuk setiap kecupan. Fitur penting lain di rumah selama Natal dan kaitan lain dengan praktik pagan adalah balok kayu Yule. Potongan batang pohon yang luar biasa ini diletakkan di perapian dan terus dinyalakan selama 12 hari perayaan hari raya.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Inti dari Natal adalah, tentunya, untuk merayakan kelahiran Yesus Kristus. Kehadiran semua orang di gereja diharapkan dan diwajibkan selama periode tertentu. Gereja lokal berusaha keras untuk menyediakan pelayanan yang layak untuk acara ini. Lilin-lilin dinyalakan dan pernak-pernik altar yang bertepi emas dibuka, semua khusus untuk hari yang istimewa ini. Paduan suara bernyanyi dan menambahkan lagu ekstra dan dialog dinamis yang disebut ‘troping’. Dari kegiatan ini muncul tradisi menggunakan pembicara atau aktor untuk memerankan adegan-adegan dari Kisah Kelahiran. Seiring berjalannya waktu, kisah kelahiran Natal menjadi bagian teater dengan kostum dan bahkan hewan sungguhan.

Mengacu pada tiga hadiah dari orang Majus berupa emas, dupa dan kemenyan ketika mereka mengunjungi bayi Yesus di Betlehem, hadiah diberikan untuk teman dan keluarga. Bagi orang-orang kaya, pakaian-pakaian indah serta perhiasan merupakan kebiasaan, bagi yang kurang mampu, makanan yang lebih baik daripada biasa, seikat kayu bakar atau mainan kayu sederhana seperti gasing dan boneka sangat dinantikan. Sayangnya, para pembantu sering diharapkan menghadiahi majikan mereka dengan roti ekstra dan telur serta mungkin seekor ayam saat Natal. Di sisi lain, tuan tanah memberikan hadiah untuk beberapa pekerja mereka yang libur yang bisa jadi menerima bonus pakaian atau keperluan musim dingin. Hadiah-hadiah diberikan lagi pada tanggal 1 Januari. Dikenal dengan ‘hadiah pertama’, hal ini dianggap untuk memperlihatkan keberuntungan seseorang setahun ke depan. Pertanda lain untuk masa depan adalah siapa tamu pertama di tahun itu. Orang-orang saling mengunjungi rumah orang lain pada Hari Tahun Baru, dan untuk kegiatan ini, disebut ‘pijakan pertama’, dianggap paling diharapkan jika tamunya adalah pria, berambut gelap dan tidak terduga.

The Three Magi
Tiga Orang Majus
Nina Aldin Thune (CC BY-SA)

Pada Abad Pertengahan, seperti juga saat ini, makanan merupakan bagian yang istimewa selama Natal. Orang-orang kaya harus berbuat lebih untuk meja makan mereka yang mewah, menyediakan daging, seperti burung merak pangggang, angsa atau kepala babi hutan kepada tamu-tamunya, juga jamuan seperti salmon dan tiram. Makanan pencuci mulutnya mirip dengan perayaan zaman sekarang: kacang-kacangan, jeruk, kue-kue, krim buah, buah ara dan kurma. Untuk minumannya, terdapat anggur manis atau anggur berempah, cider (minuman beralkohol dari sari apel) dan bir. Makanan Natal yang besar umumnya merupakan makan siang yang dilakukan lebih awal. Taplak meja diganti setiap selesai satu hidangan dan hiburan meliputi musik, akrobat, pelawak dan sandiwara yang ditampilkan oleh penyanyi keliling. Bahwa pesta di mana-mana bisa menjadi tidak terkendali tercatat oleh pengawas yang dibayar untuk memastikan harta benda tidak rusak selama 12-hari hari raya, terutama pesta-pesta besar yang diselenggarakan di malam 6 Januari, yang disebut Malam Keduabelas.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Saling memberi hadiah untuk mengenang hadiah orang Majus untuk Yesus berlanjut, juga ide bahwa ini adalah saatnya dalam setahun di mana kegiatan amal harus dilakukan.

Orang-orang miskin menikmati hiburan yang lebih sederhana seperti permainan kartu dan dadu, nyanyian natal, memainkan alat musik, permainan papan, saling menceritakan cerita rakyat dan menikmati permainan pesta tradisional seperti mengizinkan satu orang untuk menjadi ‘raja perjamuan’ jika mereka menemukan sebutir kacang di dalam roti atau kue spesial – kemudian yang lainnya harus menirukan ‘raja’ (permainan tukar-peran yang mengikuti permainan Saturnalia ‘Tuan Salah’). Hiburan publik yang gratis pada hari raya diadakan oleh gereja dan serikat, seperti pertunjukan boneka, pantomim dan kontes. Ada pula pemain sandiwara bisu bertopeng, penghibur profesional yang mengunjungi rumah-rumah dan tampil dengan bayaran kecil atau sekedar makanan. Tradisi abad pertengahan lain yang bertahan dan terus berlanjut dalam perayaan Natal kita sampai hari ini adalah menolong sesama yang kurang beruntung dibandingkan kita. Sisa dari makan siang besar di rumah-rumah mewah sering dibagikan kepada kaum miskin dan beberapa orang yang beruntung bahkan bisa diundang ke perjamuan itu sendiri, misalnya dua orang dari para pelayan.

Natal Era Elizabeth

Seiring dengan berakhirnya Abad Pertengahan, peran utama Gereja abad pertengahan dalam kehidupan masyarakat mulai agak berkurang. Kehadiran pada pelayanan tertentu di gereja masih menjadi kewajiban secara hukum, tetapi Reformasi dan ketidaksukaannya terhadap gambar dan pertunjukan di gereja menghilangkan sedikit semarak pelayanan Natal. Selama Era Elizabeth (1558-1603 Masehi) ‘hari raya’ berlanjut sebagai sumber utama ‘hari libur’ umum – sebuah istilah yang pertama kali digunakan – namun terdapat kegiatan sekuler yang mengukuhkan diri sebagai tradisi populer. Sebagai contoh, Adven adalah masa puasa sebelum Natal, dimulai pada Hari Santo Andreas, 30 November. Tapi sekarang, hal ini lebih menjadi hitung mundur untuk liburan Natal yang masih sepanjang 12 hari. Sekarang lebih banyak anak yang pergi ke sekolah daripada pada Abad Pertengahan dan mereka diberikan libur dua minggu.

Lady Gathering Mistletoe
Perempuan Mengumpulkan Mistletoe
Welcomeimages.org (CC BY)

Kegiatan saling memberikan hadiah masih berlanjut, begitu pula dengan pemikiran bahwa ini adalah saatnya dalam setahun di mana kegiatan amal harus dilakukan. Tradisi memberi hadiah pada tanggal 1 Januari masih tetap kuat dan melibatkan Elizabeth I dari Inggris sendiri yang secara reguler menerima perhiasan, gaun-gaun mewah dan kipas bulu dari para orang istana. Rakyat yang lebih miskin sering menghadiahkan jepit, sarung tangan dan buah-buahan d hari tersebut.

Sisihkan pariwara

Advertisement

Makanan mungkin adalah bagian yang paling ditunggu-tunggu; hidangan Natal pada zaman ini sangat mewah hingga juru masak di rumah memerlukan banyak waktu persiapan. Untuk alasan ini, hari libur dimulai di Malam Natal, 24 Desember, biasanya pada petang hari di hari tersebut. Di zaman ini, tanggal 25 menjadi puncak hari raya dalam hal perayaan pribadi dan pesta, menggantikan selebrasi yang biasanya diadakan di Malam Keduabelas.

Di dalam rumah yang dihiasi dedaunan hijau dan lilin, jamuan Natal meliputi banyak hidangan daging dan makanan laut karena yang hadir adalah tamu-tamu yang jarang berkunjung di hari-hari biasa. Pai, kue buah berempah, kacang-kacangan, daging babi yang diawetkan merupakan hidangan yang populer, juga wassail, sejenis minuman beralkohol berempah yang biasanya diminum dari mangkuk berwarna coklat sambil bernyanyi. Kepopuleran permainan (terutama kartu) dan hiburan berlanjut seperti sebelumnya. Aturan-aturan sosial dilonggarkan seperti yang sudah diharapkan orang-orang. Permainan bertukar peran sesuai jenis kelamin, memungkinkan murid-murid berada di atas gurunya dan dengan dua orang rakyat jelata berperan sebagai ‘raja dan ratu perjamuan’ membawa banyak kelucuan dan ajang untuk pamer kecerdikan. Biasanya dua orang keluarga kerajaan yang terpilih karena masing-masing menemukan sebutir kacang di dalam kue berempah mreka.

Christmas Partiers under the Mistletoe
Pesta Natal di Bawah Mistletoe
Xavier Sager (Public Domain)

Hari Natal adalah kesempatan untuk berpergian dan melihat-melihat pemandangan kerajaan. Dengan tidak adanya jalanan umum, berpergian dengan kereta kuda lama dan tidak nyaman, namun demikian, mereka yang pemberani bisa mengunjungi dan melihat kapal milik Francis Drake, Golden Hind, di London yang merupakan kapal Inggris pertama yang berlayar mengelilingi bumi (1577-1580). Kilauan Crown Jewels di Menara London adalah atraksi populer lain dalam periode Tudor.

Nama Natal menjadi masalah selama Reformasi Inggris ketika Misa Katolik dianggap kurang menarik di dalam Gereja Anglikan. Natal sendiri terancam oleh kaum Puritan, kaum ekstremis Kristen yang lebih menyukai untuk berpuasa di hari Natal. Untungnya, keputusan hukum untuk membatalkan perayaan Natal dibatalkan tahun 1660. Hari libur dikembalikan dan ditetapkan sebagai hari paling penting dalam setahun, dalam hal ini, menggantikan perayaan Paskah bagi banyak orang.

Natal Era Victoria

Lompatan maju berikutnya tentang bagaimana Natal dirayakan terjadi pada masa pemerintahan Ratu Victoria dari 1837 sampai 1901, sebuah periode yang menyaksikan tradisi baru yang penting yang kemudian menjadi bagian dari hari raya. Era Victoria memperlihatkan kenangan akan kemeriahan perayaan Natal pada abad pertengahan. Seperti banyak orang pada saat ini yang meromantisasi Natal periode Victoria, begitu pula pada abad ke-19; penulis seperti Sir Walter Scott (1771-1832) memuji-muji Natal di zaman dahulu. Akhirnya, hari raya ini menjadi ajang untuk menampilkan mitos elusif dari zaman keemasan di masa lalu, kegiatan yang dalam banyak hal berlanjut hingga saat ini. Zaman Victoria dengan jelas memastikan bahwa elemen-elemen abad pertengahan seperti pelayanan pagi Natal di gereja, perjamuan Natal, hadiah-hadiah dan pantomim terus dilanjutkan sebagai kegiatan yang esensial selama perayaan.

The Jovial Christmas Polka
Christmas Polka Ceria
Alfred Concanen (Public Domain)

Suami Ratu Victoria adalah Albert dari Saxe-Coburg dan Gotha, Pangeran Pendamping (1819-61); ia memperkenalkan tradisi pohon Natal di Inggris yang merupakan hal populer di negara asalnya. Meski bukan keluarga kerajaan pertama yang memajang pohon Natal di Inggris, sejak tahun 1841 Pangeran Albert memulai tradisi abadi yang dengan segera menyebar dari alun-alun kota hingga ke ruang keluarga di seluruh negeri; ide ini disebarkan lewat majalah berilustrasi yang memperlihatkan perayaan Natal pribadi keluarga kerajaan. Mistletoe masih menjadi elemen penting dekorasi, namun pada akhirnya digantikan oleh pohon Natal sebagai pusat pajangan di rumah saat Natal. Pohon ara muda didekorasi dengan lilin-lilin dan hadiah-hadiah kecil (mainan, permen, jimat dan manisan buah) yang digantung di dahannya yang kemudian dibagikan kepada tamu-tamu Natal yang namanya tercantum pada hadiah tersebut.

Lagu-lagu Natal dinyanyikan di sekitar piano keluarga atau dinyanyikan oleh sekelompok kecil penyanyi Natal di luar rumah pada Malam Natal, mereka diberi imbalan segelas minuman atau pai hangat. Buku nyanyian Natal yang pertama berasal dari tahun 1521, namun baru pada era Victoria tradisi ini tersebar ke mana-mana, dengan mengumpulkan lagu-lagu Natal yang lama terlupakan dan menambahkan milik mereka sendiri ke dalam antologi yang baru.

Victorian Christmas Card
Kartu Natal Era Victoria
Minnesota Historical Society (CC BY-SA)

Sistem pos yang lebih efisien dan diperkenalkannya perangko Penny Black di tahun 1840 berarti korespondensi meningkat dan sebuah tradisi terbentuk dari mengirim kartu Natal untuk teman dan keluarga jauh yang pertama kali diperkenalkan di inggris tahun 1843. Muncul dalam berbagai bentuk dan ukuran, kartu-kartu Natal ini digambar pada logam, diwarnai dengan tangan, dan sering kali dihiasi pita dan renda. Ada berbagai subjek yang tergambar pada kartu Natal, namun salah satu tema yang berulang kali muncul adalah pemandangan salju; sebuah refleksi musim dingin yang dahsyat di Inggris selama tahun 1830an dan 1840an. Natal Putih menjadi lebih jarang sejak saat itu namun pemandangan ini masih melekat dalam imajinasi orang-orang.

Berbagai jenis hadiah tersedia di toko-toko yang menghias jendela-jendelanya untuk menarik para pembeli dan banyak yang membagikan katalog untuk mereka yang tidak bisa datang langsung ke toko. Alih-alih dibuat di rumah, mainan-mainan produksi massal sekarang tersedia, sering kali diimpor dari Jerman dan Belanda. Bukan sekedar barang sederhana dari kayu, mainan-mainan ini sudah lebih canggih. Mekanisme versi miniatur yang memungkinkan boneka bisa berjalan dan kereta bergerak. Hadiah-hadiah sekarang diberikan khusus saat Natal atau Malam Natal. Tanggal 26 Desember menjadi dikenal sebagai Boxing Day di Inggris karena hari tersebut adalah hari di mana para majikan secara tradisional memberikan sekotak hadiah dan sisa-sisa perayaan kepada para pembantu dan pekerja mereka.

Scrooge & the Ghost of Christmas Present
Scrooge & Hantu Natal Masa Kini
John Leech (Public Domain)

Pemberi hadiah Natal terbesar tentu saja adalah Bapak Natal. Sosok ceria dengan janggut putih panjang yang mengunjungi rumah-rumah di Malam Natal untuk memberikan hadiah pada anak-anak yang baik berasal dari Santo Nicholas pada abad ke-4, Uskup Myra di Anatolia yang senang membagikan hadiah termasuk sekarung emas. Karena salah satu penerima itu menerima hadiahnya lewat cerobong asap dan mendarat di dalam kaus kaki, maka metode lazim yang digunakan untuk mengantarkan hadiah ditetapkan. Santo Nicholas diperingati pada tanggal 6 Desember - dan masih dirayakan di banyak negara sampai hari ini - adalah waktu di mana anak-anak menggantung stoking atau sandal mereka. Bapak Natal tidak hanya terinspirasi oleh Santo Nicholas tapi juga menggabungkan elemen-elemen ‘Semangat Natal’ dari cerita rakyat yang menjelaskan sisi yang lebih periang dan penuh kasih dari dirinya, sifat yang diharapkan menarik bagi anak-anak dengan memberikannya minuman beralkohol di Malam Natal. Sosok pemberi hadiah yang periang ini memiliki banyak julukan, dari Christkind (Jerman) hingga Santa Claus (Amerika Serikat). Versi Amerika dengan lelaki berbaju merah dan perut buncit – muncul sejak sekitar tahun 1850 – yang menjadi juaranya, tampaknya, dalam imajinasi populer tentang siapa yang memberikan hadiah terbaik.

Secara umum terdapat peningkatan standar hidup, meski tentu saja tidak untuk semua orang, dan ini artinya bahwa daging istimewa dibutuhkan untuk jamuan Natal. Daging sapi panggang menjadi populer di sebelah utara Inggris dan daging angsa panggang di selatan, namun seiring abad berlalu, ayam kalkun menjadi pusat hidangan di meja makan. Bahkan keluarga yang kurang mampu bisa mendapatkan unggas besar untuk Natal jika mereka bergabung dengan skema seperti The Goose Club (Klub Angsa), dengan membayar setiap minggu agar bisa mendapatkan unggas untuk Natal yang kemudian dimasak oleh tukang kue. Sebagai pendamping burung panggang, disajikan sup, tiram, daging domba, anggur port, jeli, buah-buahan, kacang-kacangan dan makanan apapun yang sanggup dihidangkan oleh sebuah keluarga untuk perjamuan terbesar sepanjang tahun.

Pamungkasnya adalah puding Natal panggang, sering disebut puding prem karena bahan utamanya (sudah digantikan oleh currant dan kismis pada era Victoria). Sekeping koin perak seperti sekeping tiga penny dimasukkan ke dalam puding - tiruan dari tradisi abad pertengahan kacang dalam kue. Puding yang bundar dihias dengan setangkai holly dan dilapisi dengan rum atau brendi sehingga bisa disulut api saat disajikan. Ini menjadi hal yang dinantikan saat Natal; bahkan para pelaut, penjaga mercusuar dan penjelajah kutub membawa satu untuk dimakan di hari besar ini. Yang populer adalah kue pastel, dengan campuran daging dan buah (daging sudah dihilangkan di versi modern). Kue buah berempah dari era Elizabeth menjadi kue berkrim Natal tradisional, dimakan setelah makan malam, mungkin dengan sedikit keju dan segelas anggur port.

Traditional British Christmas Food
HIdangan Natal Tradisional Inggris
Mark Cartwright (CC BY-NC-SA)

Meja dihiasi dengan petasan Natal, gulungan kertas yang ditarik oleh dua orang dengan bunyi ‘krak’ dan di dalamnya terdapat mainan-mainan kecil, jimat, potret siluet, permen, topi kertas dan semboyan. Ada juga pergantian waktu; sebagian keluarga tetap menyantap makan siang Natal, mungkin lebih lambat daripada biasanya, sementara yang lain menyantap makan malam Natal pada petang hari. Setelah makan, ada tarian, nyanyian, deklamasi, mungkin sedikit sulap dari tamu atau slide lentera ajaib. Ada pula permainan, seperti tebak-tebakan, permainan si buta, Cari Sepatu ,atau Snap Dragon (memungut kismis dari mangkuk yang menyala dengan brendi).

Semua kegiatan Natal zaman Victoria diambil, dirayakan dan dilestarikan untuk generasi masa depan oleh para penulis di zaman itu dan tidak ada yang lebih berhasil melakukannya selain Charles Dickens (1812-1870). Cerita Natal karya Dickens, A Christmas Carol, yang mengisahkan tentang si kikir yang bertobat, Ebenezer Scrooge, menjadi bagian tetap dari Natal sejak diterbitkan tahun 1843.

Tradisi Natal tentunya terus berkembang dengan tambahan seperti Rudoplh si rusa kutub berhidung merah, anak-anak bertemu Sinterklas di pusat perbelanjaan lokal, dan kalender adven coklat. Sekarang ini, lampu-lampu eletronik menggantikan lilin-lilin di pohon, gereja tidak lagi sesibuk dulu, balok kayu Yule sekarang terbuat dari coklat dan banyak kartu Natal menjadi elektronik, namun tradisi yang sudah berjalan selama berabad-abad dalam merayakan Natal berlanjut setiap tahun untuk memukau dan menginspirasi seperti sebagaimana yang sudah dilakukan.

Tengah malam tiba. Kau mendengarnya dalam keheningan malam Natal yang tidak kau dengar di waktu lain. Hari yang besar sudah berakhir. Jika kau berada di luar negeri kau akan terkejut oleh kesendirianmu. Kau akan mengerti bahwa Natal adalah perayaan rumah.

Christmas London, G. R. Sims

(Miall, 149)

Artikel ini didedikasikan untuk mendiang ibunda penulis, Ruth Cartwright, yang dengan riang gembira sibuk di depan kompor, memastikan setiap dan semua Natal ceria, cerah dan meriah.

Sisihkan pariwara

Advertensi

Tentang Penerjemah

Sabrina Go
Penggemar cerita-cerita lama, kisah-kisah kuno dan kejadian-kejadian di masa lalu. Dan seorang penerjemah.

Tentang Penulis

Mark Cartwright
Mark adalah seorang penulis sejarah yang tinggal di Italia. Minat khususnya termasuk tembikar, arsitektur, mitologi dunia dan menemukan berbagai pemikiran yang sama-sama dimiliki oleh seluruh peradaban. Dia memiliki gelar MA dalam Political Philosopy dan dia juga menjabat sebagai Direktur Penerbitan di WHE.

Kutip Karya Ini

Gaya APA

Cartwright, M. (2021, Desember 07). Natal dari Zaman ke Zaman [Christmas Through the Ages]. (S. Go, Penerjemah). World History Encyclopedia. Diambil dari https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1893/natal-dari-zaman-ke-zaman/

Gaya Chicago

Cartwright, Mark. "Natal dari Zaman ke Zaman." Diterjemahkan oleh Sabrina Go. World History Encyclopedia. Terakhir dimodifikasi Desember 07, 2021. https://www.worldhistory.org/trans/id/2-1893/natal-dari-zaman-ke-zaman/.

Gaya MLA

Cartwright, Mark. "Natal dari Zaman ke Zaman." Diterjemahkan oleh Sabrina Go. World History Encyclopedia. World History Encyclopedia, 07 Des 2021. Web. 05 Jul 2022.